Image and video hosting by TinyPic
Home » , , , » Tjandra Heru Awan, Guru Kreatif Pencipta Peraga Fisika dari Barang Bekas

Tjandra Heru Awan, Guru Kreatif Pencipta Peraga Fisika dari Barang Bekas

Written By Unknown on Selasa, 02 September 2014 | 09.49

Liputan6.com

Usia Tjandra Heru Awan yang sudah 56 tahun tak membuat dia berhenti berkarya. Guru SMAN 10 Malang ini kemarin meluncurkan buku dan DVD peraga mata pelajaran Fisika dari barang bekas. Karyanya itu dibiayai Medco Foudation. 

Sosoknya sederhana. Bicaranya ceplas-ceplos. Namun di balik gaya khasnya itu, Tjandra Heru Awan juga menyimpan jiwa humor tinggi. 


Gaya terakhirnya itu kemarin dibuktikan dalam peluncuran buku dan DVD bertajuk Tangkas Bersama Laga Si Rangkas (Alat Peraga Fisika dari Barang Bekas) di aula SMAN 10 Kota Malang. Hadirin yang terdiri dari para guru se-Kota Malang pun dibuatnya terpingkal-pingkal saat ia mempresentasikan alat ciptaannya. 


"Saya ini memang tergolong orang TOP. Tuwek, ompong, dan populer," kata Tjandra. Hadirin pun terbahak seraya bertepuk tangan. 


Dalam presentasinya, Tjandra mengaku akan terus berkomitmen berkarya menciptakan alat-alat peraga fisika. Keinginan itu salah satunya dilatarbelakangi mahalnya alat-alat peraga pendidikan yang dijual. Bagi sekolah dalam standar atas, barangkali akan mudah menjangkaunya. Namun, kondisi berbeda akan dialami terutama di sekolah-sekolah pinggiran. Dengan keterbatasan kemampuan dana, sangat sulit untuk menjangkau sejumlah alat-alat peraga tersebut. 


"Negeri ini masih susah. Tapi kita jangan sampai menyerah. Saya juga ingin dengan alat-alat ini menjadikan pelajaran fisika jadi menyenangkan. Anggapan anak-anak selama ini, fisika itu P3 (pelajaran pelengkap penderita)," katanya yang disambut ledakan tawa peserta. 


Dia lantas memperlihatkan sejumlah alat ciptaannya. Sebut saja, MoLina (motor listrik sederhana). Seperti halnya alat peraga lain, alat yang merupakan media konstruksi materi motor listrik itu semuanya dibuat dari barang-barang bekas. Bahan dan alat yang digunakan pun cepat sederhana. 


Yakni, dari lempengan kaleng, kertas timah, karton, styrofoam, selotip, pensil, magnet bekas, kawat email, jeruji sepeda, penggaris, dan cutter. "Untuk membuat rumah motor, saya buat dari kardus bekas kemasan mie instan. Sementara magnetnya menggunakan silinder dari load speaker yang sudah tidak dipakai lagi," kata guru peraih Juara III Science is Fun Competition Australian Education Centre 2005 


Ide awal membuat alat peraga tersebut bermula saat dirinya ingin menjelaskan cara kerja motor listrik pada siswanya. Praktik itu dengan menggunakan alat dinamo. Namun, ternyata banyak siswa yang tidak mengerti apa itu dinamo karena bentuknya yang sangat kecil dan sulit sekali diamati. Misalnya, saat diberi tegangan 0,5 volt, maka perputaran dinamo akan sangat kencang. Itu yang menjadikan sulit diamati. 


Dengan alat ciptannya tersebut, dia berharap bisa menjadi media untuk menerangkan materi pelajaran. Bahkan, alat ciptaannya tersebut terkadang menjadi hiburan siswa di kala jenuh menerima materi pelajaran. Tak jarang, setelah pelajaran selesai, siswanya beramai-ramai ingin mencobanya. Dalam konteks bermain-main ini, tidak terasa mereka sekaligus bisa belajar lagi 


"Cukup lama merancang alat ini. Kira-kira setahun lebih. Semula saya beri nama Molibadul (mobil listrik dari bahan daur ulang). Rasanya lebih familier kalau saya ganti dengan sebuta Molina," Tjandra guru yang tinggal di Jl Danau Paniai Utara II G 20 Malang itu. 


Alat-alat peraga lain yang berhasil dibuatnya seperti prisma air, tabung semprot, tabung Boyle, dan cakram newton. Karya lainnya yakni model avometer, magnet apung, lamp holder, Paranglina (papan rangkaian listrik sederhana), dan tabung apung tenggelam. Sejumlah karya tersebut diterbitkan dalam tiga buku.
 
Karena karyanya ini juga mengantarkan Tjandra dilirik Medco Foundation untuk menjadi pembicara kongres guru se-Indonesia di Jakarta. Selain karya-karyanya dibukukan dalam format animasi dan akan disebarkan di daerah-daerah terpencil, Tjandra juga mendapat hadiah istimewa dari Medco. Bersama sang istri, dia diberangkatkan ibadah haji ke tanah suci. 


Inovasi di dunia pendidikan ini juga mendapat apresiasi khusus dari Kadiknas Kota Malang Dr Shofwan. Saat peluncuran itu, Shofwan bahkan memberikan waktu khusus untuk hadir. Berkali-kali dalam sambutannya, Shofwan menyatakan kekagumannya atas prestasi yang diraih Tjandra. 


"Saya sudah lama mengenal Pak Tjandra ini. Beliau ini guru langka. Jujur, beliau guru pas-pasan dari sisi ekonomi, tapi semangat untuk terus memberi inspirasi di dunia pendidikan nyaris tak pernah mati," puji Shofwan. 


Shofwan pun sempat mengenang kesederhanaan Tjandra. Pernah suatu ketika, kata Shofwan, karena keinginan memberi reward terhadap Tjandra karena keberhasilan menciptakan alat-alat peraga dengan menawari melanjutkan studi, tapi ditolaknya. "Saya heran juga, alasan penolakan Pak Tjandra karena dia ingin memilih berkarya," tambahnya.
Penolakan memberi hadiah ini agaknya masih terus tersimpan dalam diri Shofwan. Karena itu kesempatan kemarin dimanfaatkan Shofwan untuk memberi hadiah pada Tjandra sesuatu yang memang bermanfaat baginya. 


"Besok (hari ini, Red), tolong Pak Tjandra ke kantor saya. Saya akan beri hadiah gigi. Tinggal dihitung saja, kalau giginya ompong lima, tinggal kalikan saja Rp 150 ribu per gigi," kata Shofwan yang disambut ger-geran peserta. 


Shofwan menganggap, keutuhan gigi sebagai seorang pendidik itu penting. Pernah suatu ketika, ada siswa saat diajar guru yang kebetulan ompong, ternyata siswanya tidak terfokus pada mata pelajaran yang diberikan. Lucunya, siswa tersebut lebih tertarik memperhatikan gurunya yang ompong dan lantas menggambarnya. 


"Mudah-mudahan setelah gigi Pak Tjandra utuh, lebih semangat mengajar juga. Siswa tidak juga bisa lebih konsentrasi," ungkapnya. (*) 


Sumber : Indo Pos (23 November 2007)


















1 komentar:

  1. Info styrofoam itu memang benar, mengandung kalsinogen yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu sangat sekali membungkus makanan dengan styrofoam. Jika memang Anda adalah pengusaha makanan, sebaiknya gunakan Box Makanan yang standar food grade.

    BalasHapus