Guru Yang Meninspirasi
Written By Unknown on Jumat, 05 September 2014 | 15.03
Dra. Armita Rooswita Panjaitan, MT
Widyaiswara Madya PPPPTK BBL Medan
LATAR BELAKANG
Ingatkah ketika anda masih usia sekolah, siapakah yang anda idolakan? Seperti kebanyakan orang , anda mungkin akan mengidolakan seorang tokoh dalam film seperti Superman, Batman, atau tokoh-tokoh hero lainnya. Seiring dengan dengan kedewasaan anda , tentu anda memiliki tokoh idola yang layak Anda jadikan inspirasi dalam menjalani kehidupan, teladan dalam pekerjaan anda atau bisnis Anda. Seorang guru adalah salah satu contoh nyata yang bisa menginspirasi banyak orang-orang di sekitarnya jika ia berperan dengan baik di dalam pekerjaannya.
Guru teladan sebagai guru dalam pendidikan di Indonesia tentu telah banyak menginspirasi dalam dunia pendidikan. Ia bekerja dengan segenap hatinya dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan apa yang dicita-citakannya untuk memajukan bangsa. Luar biasa!
Apakah kita sudah menjadi guru yang menginspirasi orang-orang di sekitar kita? Ini memang bukan perkara mudah. Membuat orang mengikuti kita belum tentu membuat kita dijadikan sebagai inspirasi bagi mereka. Hanya ketika kita membangun diri kita untuk memiliki kualitas diri yang baik, memiliki keterampilan yang baik dan prestasi yang baik, punya tanggung jawab, dan dapat dipercaya; punya sikap rendah hati seperti kepedulian sesama, belajar mencintai pekerjaan, diri sendiri, maka kita telah meninggalkan jejak- jejak yang baik bagi orang-orang di sekitar kita. Tanpa kita sadari , jejak-jejak hidup yang baik ini pasti akan menginspirasi hidup banyak orang untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Perubahan kurikulum dilakukan sebagai salah satu langkah mengatasi berbagai persoalan kualitas moral bangsa, kualitas sumber daya manusia, dan tantangan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Pelaksanaan Kurikulum 2013 yang sudah dimulai tahun lalu menuntut kemampuan guru dalam penguasaan konsep esensial dan kemampuan pedagogi guru. Kurikulum 2013 menekankan pada domain sikap (spiritual, social), domain pengetahuan dan domain keterampilan. Keempat aspek ini selanjutnya akan menjadi dasar untuk penyusunan Kompetensi Inti (KI) dan penjabarannya menjadi Kompetensi Dasar (KD). Dalam kurikulum 2013, panduan pembelajaran dan buku ajar sudah ditetapkan dari pusat. Namun demikian guru dituntut untuk tetap dapat mengemas pembelajaran yang berorientasi pada aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Kurikulum 2013 ini siswa SMA dan SMK ada mata pelajaran wajib yang sama-sama mereka miliki substansi yaitu prakarya dan kewirausahaan. Hal ini tentunya guru akan membuat prakarya (kerajinan, rekayasa, pengolahan dan budidaya). Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Bila guru sudah berbuat seperti itu sudah tentu nantinya menjadi inspirasi bagi siswanya. Bagaimana tantangan yang akan dihadapi ke depannya baik tantangan internal maupun eksternal? Bagaimana agar tantangan ini dapat dicari solusinya melalui penjiwaan atas pekerjaan sebagai seorang guru?
Rasional Pengembangan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:
a. Tantangan Internal
Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan dikaitkan dengan tuntutan pendidikan yang mengacu kepada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan.
Tantangan internal lainnya terkait dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%.
Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumberdaya manusia yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban.
b. Tantangan Eksternal
Tantangan eksternal antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Arus globalisasi akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.
Tantangan eksternal juga terkait dengan pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan imbas teknosains serta mutu, investasi, dan transformasi bidang pendidikan. Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan TIMSS dan PISA. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya materi uji yang ditanyakan di TIMSS dan PISA tidak terdapat dalam kurikulum Indonesia.
Maka kurikulum 2013 ini mengalami perubahan untuk dilakukan sebagai salah satu langkah mengatasi berbagai persoalan kualitas moral bangsa, kualitas sumber daya manusia, dan tantangan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti tantangan internal maupuyn eksternal.
Penjiwaan pada pekerjaan.
Segala pekerjaan yang dilakukan dengan hati yang begitu dijiwai hasilnya pasti maksimal. Contohnya seorang pelukis maestro dapat mencoret beberapa garis yang mungkin bagi kita biasa saja, bahkan mungkin kita anggap seperti coretan anak kecil. Tetapi para kolektor berani membelinya dengan mahal. Sebaliknya, ada pelukis di pinggir jalan melukis dengan bagus, sama seperti model gambar yang ia jadikan patokan. Tapi, harga lukisannya murah bahkan mungkin tidak ditawar. Apa yang membedakan? Selain karena nama besar dan gelar maestro, perbedaaanya ada di hati si pembuat coretan. Seorang dikatakan maestro saat berhasil memberikan “nyawa” dan “rohnya” pada karyanya.
Maka untuk kita sebagai seorang guru untuk apapun yang kita kerjakan dalam bentuk prakarya (kerajinan, pengolahan , budidaya dan rekayasa) pada siswa SMA dan SMK sesuai tuntutan kurikulum 2013 ini menjadi bermakna atau biasa saja, itu ditentukan sejauh mana kita menjiwai apa yang sedang kita kerjakan.
Bicara soal penjiwaan dalam berkarya, sebenarnya ini bukan terbatas hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan seni saja seperti yang di atas. Dalam pekerjaan kita sebagai seorang gurupun, kita perlu menghayati dan melakukan penjiwaan. Maksudnya, kita bekerja dengan sepenuh hati, tulus, dan melakukannya dengan senang hati. Jika kita berja dengan segenap hati, maka apa yang kita kerjakan pasti berkualitas dan maksimal. Kita seperti maestro dalam pekerjaan. Bukan menghasilkan kualitas pekerjaan yang biasa-biasa saja, tapi kita menghasilkaqn pekerjaan yang menuju kesempurnaan.
Mengapa guru diharapkan berhasil dalam pekerjaannya?
Yang pasti guru bekerja dengan mencintai profesinya dan bekerja keras. Karena ia bekerja dengan segenap hati, tak heran guru mampu menghasilkan berbagai macam inovasi dan kreatif dalam pekerjaannya. Hasilnya, siswa akan menjadi wirausaha muda. Apapun pekerjaan kita, bekerjalah seperti maestro yang sedang melahirkan sebuah masterpiece atau karya terbesarnya.
Sumber: Kompasiana

