Saya mengajar di Sekolah Jawara SMK PGRI 1 Pasuruan kurang lebih 7 tahun. Selama itu suka duka mengajar disekolah ini saya rasakan. Mendidik dengan sepenuh hati adalah satu komitmen yang sangat diperlukan bagi sekolah kami, dimana mengajar dengan penuh kesiapan, persiapan, kematangan, tujuan yang jelas, dan keihlasan sangat diperlukan guna mewujudkan sekolah yang diidamkan. Guru adalah ujung tombak dalam sebuah kesuksesan sekolah, dia berperan penting akan dibawa kemana tujuan sekolah itu. Apakah dia bersinergi bekerja sama dengan terkait membentuk barisan menuju sekolah yang ungul atau bahkan berjalan tampa arah menghabiskan waktu dengan pikirannya sendiri. Sekolah seakan kendaraan dengan berbagai komponen membentuk fungsi yang jelas dan berguna. Maka satu komponen dengan yang lain bekerja sama mewujudkan satu visi. Lalu apakah tujuan utama sekolah Jawara SMK PGRI 1 Pasuruan? Yaitu menjadikan Jawara SMK PGRI 1 Pasuruan menjadi sekolah unggul dengan jumlah siswa terbanyak pada sekolah SMK swasta di kota Pasuruan.
Berbagai kendala yang sekolah kami hadapi dalam mewujudkan sekolah impian kami. Inilah curhatan hati kami yang sedikit menjeritkan keinginan perubahan bagi sekolah kami. Kita ketahui bahwa kesiapan materi pembelajaran itu menjadi salah satu penunjang dalam mensukseskan proses belajar mengajar disekolah. Sekolah kami sudah mengimplementasikan ISO management mutu dalam tertib administrasi dan pengajaran, namun masih banyak bapak/ Ibu guru tidak memiliki perangkat dalam mengajar. Bagaimana pendidik dapat mengajar tanpa ada guidence.
Demikian juga dalam penanganan anak didik kami, alasan karena kekurangan murid menjadi hal yang utama dalam memutuskan apakah anak dapat melanjutkan belajar, tanpa memperdulikan jumlah ketidak hadiran, akumulasi akademik dalam belajar, bahkan etika. Demikian halnya dengan penangan kedisiplinan siswa, setiap hari masih kerap kita jumpai anak salah kostum, memakai atribut non sekolah, padahal aturan sekolah sudah jelas ditempel dan disampaikan ke siswa. Apakah karena guru tidak bisa menegakkan disiplin siswa karena pendidik sendiri tidak disiplin? Seperti tiap hari yang kita jumpai pendidik merokok diruang guru atau dikantin sekolah? Bukankah sekolah tempat dimana diharamkan merokok. Bukankah mendidik orang lain itu dimulai dengan diri kita dahulu, dan setiap perbuatan pendidik juga akan di imitate oleh peserta didik? Oo sekolahku.
Lain halnya dengan ungkapan bahwa pendidik yang profesional adalah pendidik yang mendidik tampa melihat uang. Saya agak keberatan dengan kalimat diatas. Walaupun tidak bersifat matrealistis, namun apakah bisa pendidik mengajar tampa merasakan perutnya yang kosong dan anaknya menjerit kelaparan. Memang uang tidak ada habisnya, namun paling tidak setarakan dengan sekolah lain misalnya pada pemberian tunjangan Hari Raya yang layak, atau bahkan lebih sehingga kita bisa lebih loyal terhadap sekolah.
Sekolah Guru Prima adalah satu pencerahan bagi kami untuk memecahkan masalah yang kami hadapi guna memajukan sekolah kami yang telah bertahun-tahun terpuruk. Susah merombak seluruh jajaran sekolah karena mata rantai yg saling terkait. Satu-satunya center point keberhasilan SGP adalah naiknya jumlah siswa disekolah kami dan menjadi sekolah unggulan swasta di kota Pasuruan. Mungkin dengan mengoptimalkan sistem punishment and reward dapat membantu memecahkan beberapa kasus, tapi kembali lagi pada posisi semula, jika para guru sudah dihargai disekolahnya sendiri, maka mereka harus loyal dan memajukan sekolahnya.
Bravo – SALAM JAWARA
mr. look_us@yahoo.com

