Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus memahami bahwa ia sedang memutuskan untuk menjadi bagian dari kehidupan individu-individu yang dididiknya. Secara bawah sadar, anak didik yang bernaung di kelasnya berharap banyak bahwa mereka akan mendapat berbagai pengetahuan dan kemampuan untuk bekal hidupnya. Terdapat tiga aspek penting yang tidak dapat dipisahkan yaitu kemampuan dalam mendidik, ketrampilan mengajar, dan memimpin. Ketiga hal tersebut tidak cukup didapat melalui jenjang pendidikan formal. Diperlukan kesadaran untuk belajar sepanjang hayat melalui pengayaan pengetahuan, peningkatan berbagai ketrampilan serta peningkatan kualitas beringkah laku dan bertutur kata. Inilah wujud bahwa memilih profesi guru menuntut kesadaran untuk bertanggung jawab atas kemampuan dirinya agar dapat memampukan anak didiknya.
Selain itu wujud tanggung jawab seorang guru adalah pada kesadaran dirinya untuk menjadi tauladan bagi lingkungan masyarakat yang pada umumnya melihat guru sebagai ukuran moral seseorang.
Masyarakat tidak perlu tahu seorang guru mengajar dimana dan mengampu pelajaran apa, ketika disebut guru maka yang terpikir adalah sosok seorang yang menampilkan sikap moral yang luhur. Sebagai contoh ketika terdengar pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu murid maka seorang guru tidak perlu membentak maupun memaki apalagi dengan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan anak didik di depan rekan-rekannya seolah-olah si anak didik itu melakukan perbuatan dosa yang amat besar. Oleh sebab itu tanggung jawab dan tauladan untuk menampilkan diri sebagai sosok yang dipercaya baik oleh anak didik menjadi sangat penting.
Agar menjadi sosok yang tetap dipercaya sebagai seorang guru perlu meningkatkan berbagai pengetahuannya, bukan hanya pengetahuan tentang mata pelajaran yang ditekuni saja.
Pengetahuan tentang seluk beluk perkembangan fisik dan mental anak didik wajib dipahami oleh setiap individu agar guru bisa membantu siswa lebih maksimal. Guru perlu menguasai pengetahuan untuk memimpin dan menfasilitasi pembelajaran secara menyeluruh. Namun seluas apapun pengetahuan seorang guru belum akan berdampak pada pelaksanaan tugas profesinya sebelum diwujudkan dalam ketrampilan dan kecakapan praktis serta tingkah laku. Komunitas sekolah dan kelas memiliki fungsi sebagai laboratorium yang dinamis bagi para guru, termasuk di dalamnya kepala sekolah maupun pengawas sekolah untuk mengasah ketrampilan mengajar, mendidik, dan memimpin berdasarkan pengethuan yang dikuasai. Di dalam kelas guru mengimplementasikan pengetahuan pengelolaan siswa, aktifitas dan materi ajar, guna memenuhi hasrat belajar setiap individu anak didik. Dengan demikian guru secara otomatis meningkatkan ketrampilan dan sikapnya.
Guru dalam setiap langkahnya diharapkan memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas siswanya. Dalam kelas dimana setiap anak memiliki hak untuk berkembang, menuntut guru untuk selalu bersikap adil dalam melayani anak didik. Keadilan mengelola siswa adalah wujud upaya guru agar tetap dipercaya baik oleh siswa maupun masyarakat.
